CEMBUNG (Cerita Bersambung)
Theo mendekat ke arah Elmeyra yang masih
mematung. Ingin sekali Elmeyra lari, tapi tidak bisa. Bahkan untuk beranjakpun
tidak. Kaki Elmeyra seperti kena sihir. Abracadabra! Tetap berdirilah
kamu disitu !
Sekarang Theo sudah persis ada dihadapan
Elmeyra. Tidak kurang dari 50 sentimeter.
"Kamu Elmeyra Langit Rinjani?" Tanya Theo. Elmeyra diam tak menjawab.
"Aku tak menyangka kita bisa
bertemu disini."
Tanya Theo lagi. Elmeyra masih diam.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Theo masih berusaha. Elmeyra
tetap enggan membuka mulut. Ia seperti seorang bisu atau seseorang yang tidak
pernah diajarkan bicara sejak bayi.
"Jangan bilang kamu kesini
mengikutiku?"
Tanya Theo lagi. Ia sengaja berkata seperti itu agar Elmeyra mau merespon.
"Kemanapun aku pergi, itu bukan
urusanmu." Jawab
Elmeyra.
Setelah kata-kata itu keluar dari bibir
Elmeyra, perlahan sihir yang menahan kakinya hilang. Kini Elmeyra punya tenaga
untuk melangkahkan kaki.
Tapi setelah didapatinya tenaga itu,
Elmeyra bingung. Entah kemana dia akan pergi. Ia melangkahkan kaki dengan
ragu-ragu. Elmeyra pergi ke sembarang arah. Kemana saja, yang penting tidak
melihat Theo lagi.
Saking kikuknya, Elmeyra salah tingkah
dan pergi ke sebuah kedai minuman. Memesan ice moccalatte kesukaannya.
Setelah itu, pergi ke arah lain lagi tanpa tahu tujuan. Sementara Theo hanya bisa
menatap punggung Elmeyra tanpa berniat mengejarnya.
Elmeyra berjalan menyusuri Kota Tokyo
yang baru pertama kali ia datangi. Kakinya mulai lelah, seiring dengan lelah
hatinya. Entah sudah berapa jauh kakinya melangkah, yang pasti sudah jauh dari
Theo. Elmeyra akhirnya memilih duduk di kursi kosong depan minimarket.
Sudah lebih dari 10 menit Elmeyra
mematung di kursi minimarket sambil memegangi ice moccalatte yang
sudah tidak dingin lagi, ternyata es itu tidak diminum sama sekali. Wajahnya
tampak sayu dengan tatapan kosong ke arah jalan raya. Elmeyra tidak tahu
perasaan apa yang sedang dirasakannya. Hingga perlahan, air mata yang
mengenangi pelupuk mulai jatuh membasahi pipi merah Elmeyra. Ia menangis dalam
diam.
Setengah jam berlalu dengan hampa. Sejak
pertemuan tadi, hati dan pikirannya dipenuhi Theo. Laki-laki yang sukses
membuatnya patah hati. Tiba-tiba, terdengar Qeiza berteriak memanggil Elmeyra
dari seberang jalan. "EL, Elmeyra."
Teriakan itu menyadarkan Elmeyra dari buaian
lamunan. Dengan segera, Elmeyra menghapus air mata yang sudah setengah
mengering dari pipinya. Ia tidak mau membuat kedua sahabatnya khawatir dan
bertanya-tanya.
"Ya Tuhan, aku setengah gila cari
kamu El. Nomormu tidak aktif."
Qeiza mengomel bercampur khawatir. Begitupun Alfa.
"Maaf Qei, handphone-ku mati
dan tiba-tiba aku tersesat kesini." Ucap Elmeyra dengan nada polos, berusaha menyembunyikan
kejadian di taman. Sebetulnya Elmeyra tidak benar-benar berbohong. Ia juga baru
sadar kenapa bisa tersesat di tempat itu.
Ternyata hari sudah gelap. Elmeyra sama
sekali tidak resah tersesat di negeri orang. Saat itu otaknya dipenuhi
keresahan atas pertemuannya dengan Theo. Laki-laki yang membuatnya patah hati
satu tahun lalu. Laki-laki ini juga yang membuat Elmeyra bekerja tidak tahu
waktu. Karena hanya dengan bekerja, Theo tak hadir dalam khayal Elmeyra.
"Kita pulang saja ya. Istirahat." Ucap Alfa.
"Iya, aku juga sudah mulai lelah." Timpal Qeiza. Diikuti oleh anggukan Elmeyra. Mereka bertiga pulang dengan menggunakan kereta, sebagaimana kebiasaan orang Jepang yang lebih suka menggunakan kendaraam umum daripada kendaraan pribadi. Oleh karena itu, setiap orang bisa mengakses kereta sepuasnya selama dua puluh empat jam.
Bersambung........
Bantu like ceritaku ya :)
Terimakasih :)

Komentar
Posting Komentar