Bagian 2

CEMBUNG (Cerita Bersambung)


Theo mendekat ke arah Elmeyra yang masih mematung. Ingin sekali Elmeyra lari, tapi tidak bisa. Bahkan untuk beranjakpun tidak. Kaki Elmeyra seperti kena sihir. Abracadabra! Tetap berdirilah kamu disitu !

Sekarang Theo sudah persis ada dihadapan Elmeyra. Tidak kurang dari 50 sentimeter.

"Kamu Elmeyra Langit Rinjani?" Tanya Theo. Elmeyra diam tak menjawab.

"Aku tak menyangka kita bisa bertemu disini." Tanya Theo lagi. Elmeyra masih diam.

"Sedang apa kamu disini?" Tanya Theo masih berusaha. Elmeyra tetap enggan membuka mulut. Ia seperti seorang bisu atau seseorang yang tidak pernah diajarkan bicara sejak bayi.

"Jangan bilang kamu kesini mengikutiku?" Tanya Theo lagi. Ia sengaja berkata seperti itu agar Elmeyra mau merespon.

"Kemanapun aku pergi, itu bukan urusanmu." Jawab Elmeyra.

Setelah kata-kata itu keluar dari bibir Elmeyra, perlahan sihir yang menahan kakinya hilang. Kini Elmeyra punya tenaga untuk melangkahkan kaki.

Tapi setelah didapatinya tenaga itu, Elmeyra bingung. Entah kemana dia akan pergi. Ia melangkahkan kaki dengan ragu-ragu. Elmeyra pergi ke sembarang arah. Kemana saja, yang penting tidak melihat Theo lagi.

Saking kikuknya, Elmeyra salah tingkah dan pergi ke sebuah kedai minuman. Memesan ice moccalatte kesukaannya. Setelah itu, pergi ke arah lain lagi tanpa tahu tujuan. Sementara Theo hanya bisa menatap punggung Elmeyra tanpa berniat mengejarnya.

Elmeyra berjalan menyusuri Kota Tokyo yang baru pertama kali ia datangi. Kakinya mulai lelah, seiring dengan lelah hatinya. Entah sudah berapa jauh kakinya melangkah, yang pasti sudah jauh dari Theo. Elmeyra akhirnya memilih duduk di kursi kosong depan minimarket.

Sudah lebih dari 10 menit Elmeyra mematung di kursi minimarket sambil memegangi ice moccalatte yang sudah tidak dingin lagi, ternyata es itu tidak diminum sama sekali. Wajahnya tampak sayu dengan tatapan kosong ke arah jalan raya. Elmeyra tidak tahu perasaan apa yang sedang dirasakannya. Hingga perlahan, air mata yang mengenangi pelupuk mulai jatuh membasahi pipi merah Elmeyra. Ia menangis dalam diam.

Setengah jam berlalu dengan hampa. Sejak pertemuan tadi, hati dan pikirannya dipenuhi Theo. Laki-laki yang sukses membuatnya patah hati. Tiba-tiba, terdengar Qeiza berteriak memanggil Elmeyra dari seberang jalan. "EL, Elmeyra."

Teriakan itu menyadarkan Elmeyra dari buaian lamunan. Dengan segera, Elmeyra menghapus air mata yang sudah setengah mengering dari pipinya. Ia tidak mau membuat kedua sahabatnya khawatir dan bertanya-tanya.

"Ya Tuhan, aku setengah gila cari kamu El. Nomormu tidak aktif." Qeiza mengomel bercampur khawatir. Begitupun Alfa.

"Maaf Qei, handphone-ku mati  dan tiba-tiba aku tersesat kesini." Ucap Elmeyra dengan nada polos, berusaha menyembunyikan kejadian di taman. Sebetulnya Elmeyra tidak benar-benar berbohong. Ia juga baru sadar kenapa bisa tersesat di tempat itu.

Ternyata hari sudah gelap. Elmeyra sama sekali tidak resah tersesat di negeri orang. Saat itu otaknya dipenuhi keresahan atas pertemuannya dengan Theo. Laki-laki yang membuatnya patah hati satu tahun lalu. Laki-laki ini juga yang membuat Elmeyra bekerja tidak tahu waktu. Karena hanya dengan bekerja, Theo tak hadir dalam khayal Elmeyra.

"Kita pulang saja ya. Istirahat." Ucap Alfa.

"Iya, aku juga sudah mulai lelah." Timpal Qeiza. Diikuti oleh anggukan Elmeyra. Mereka bertiga pulang dengan menggunakan kereta, sebagaimana kebiasaan orang Jepang yang lebih suka menggunakan kendaraam umum daripada kendaraan pribadi. Oleh karena itu, setiap orang bisa mengakses kereta sepuasnya selama dua puluh empat jam.


Bersambung........


Bantu like ceritaku ya :)

Terimakasih :)



Komentar

Postingan populer dari blog ini