PUTRI TAHTA FADILAH
 

ORANG YANG PALING AKU PERCAYA

Bian, seperti itulah orang-orang memanggilku. Nama lengkapku Bianca Dewi. Aku menjalani hidup normal dan biasa saja seperti kebanyakan orang. Pergi kerja pagi-pagi, pulang sore hari, dan istirahat pada malam hari. Tidak ada aktivitas luar biasa yang aku lakukan selama hidup tiga puluh dua tahun. Hanya menjalani rutinitas biasa-biasa saja.

Namun menjalani rutinitas seperti itu bukan berarti tidak memiliki impian. Aktivitsku adalah bagian dari perjuangan dalam mempertahankan kehidupan. Demi masa depan yang mandiri, tidak bergantung pada pertolongan dan belas kasihan orang lain. Kalau untuk urusan mimpi, aku ingin sekali memiliki perusahaan sendiri. Sehingga bisa memberdayakan orang banyak.

Bicara soal asmara, aku memiliki seorang tunangan yang sangat baik hati. Hubungan kami berjalan kurang lebih enam tahun semenjak berpacaran. Namanya Julius. Dia adalah orang yang sangat aku percaya, karena dalam sejarah kehidupanku, Julius adalah laki-laki terbaik yang aku temui setelah ayah. Dia orang yang sangat bertanggungjawab dan penuh rasa kasih sayang. Maka jangan heran kalau kami bisa mempertahankan hubungan ini sampai bertahun lamanya. Rencananya, tahun depan kami akan melangsungkan pernikahan.

Namun akhir-akhir ini aku selalu sedih saat paras Julius muncul dalam benakku. Rasa-rasanya sesak. Seringkali mengoyak isi dada dan kepala yang memuncak di ubun-ubun. Malam ini, ku pandangi potret kami berdua yang terpampang pada dinding kamarku yang biru. Dia datang tanpa berlalu. Rindu sama Julius semerbak aroma sendu;

Ada sakit yang muncul secara tiba-tiba. Sedih juga takut. Perasaan yang betul-betul mengusik keseharian, tanpa aku tahu apa penyebabnya. Pada Tuhan dimulailah cerita dan ribuan tanda tanya tentang situasi ini. Kata-kata penuh ironi :

“Perasaan apa ini? Wajarkah aku sakit hati? Lantas siapa yang menyakiti? Apakah itu Julius? Tidak mungkin. Julius baik dan penuh kasih.” Ribuan tanda tanya bercampur paras Julius terus berkeliaran dalam otak dan hatiku. Rasa-rasanya sudah dua tahun kami tidak bertemu. Padahal baru saja dua minggu Julius pergi ke luar pulau. 

Malam ini, entah kenapa aku ingin sekali mendatangi tempatnya Julius. Dengan berpakaian seadanya, aku melajukan mobil menuju tempat Julius. Aku bertekad harus menyelesaikan teka teki dalam hati. Mungkin, tempat tinggal Julius bisa memberikan salah satu petunjuk.

Sesampainya disana, betapa terkejutnya aku mendapati Julius sedang berduaan dengan seorang perempuan. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Perempuan itu menangis dihadapan Julius. Raut panik pun tak luput dari wajah Julius. Dari paras dan gayanya, perempuan itu tampak lebih muda dariku. Usianya sekitar awal dua puluhan. Awalnya aku tidak merasakan keanehan apapun, sampai akhirnya Julius sendiri yang salah tingkah.

“Maafkan Aku Bi.” Lirihnya dengan wajah kusut campur terkejut. Aku mencoba menelaah atas apa yang terjadi dengan Julius. Sampai aku melewatkan perempuan yang bersama Julius. Dia berlalu tanpa aku tahu.

Selanjutnya, aku yang berlalu tanpa meminta penjelasan apapun dari Julius. Saat itu, udara terasa begitu menusuk, sampai-sampai melukaiku. Aku pergi tanpa permisi. Permohonan maafnya tak ingin ku pertanyakan. Biarkan saja tetap menjadi ribuan tanda tanya bercampur bayangan Julius dan “dia”. Ah, sesak sekali.

Waktu pun berlalu, mengumpulkan jawaban demi jawaban. Waktu berlalu, memilih apa yang tidak menjadi pilihan; Menyangkal sesuatu yang tidak memihak padaku : Kenyataan. Kebenaran. Semuanya meronta-ronta menjajah kesadaran.

Satu minggu setelah kejadian itu, aku menemui Julius.

“Julius, aku akan mengakhiri semuanya.” Ucapku datar. Menahan segala gejolak dalam dada karena harus kembali bertemu dengan Julius benar-benar membuatku kalut.

“Maafkan aku Bian” Ujar Julius lirih.

Dari semenjak terakhir bertemu, hanya “Maaf” yang keluar dari bibir Julius. Kata maaf yang selalu menikam hatiku. Berkali-kali, bertubi-tubi. Rasa-rasanya aku ingin sekali menangis. Tapi untuk apa meratapi situasi yang tidak berpihak padaku? Untuk apa menangisi orang yang tidak layak untuk ditangisi. Ah, bahkan bagiku sekarang Julius bukan orang.

“Aku sangat menyayangimu. Tapi hanya karena kebodohan dan nafsu, aku menghancurkan semuanya. Bi, kami sudah dua tahun berhubungan. Lebih dari hubunganku denganmu. Aku dituntut keadaan untuk bertanggungjawab menikahi Laras.” Julius bercerita tidak karuan. Bercampur dengan rintihan dan isak tangis.

Sebetulnya, tanpa Juius bercerita, semesta telah memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Dalam kesadaran tiada arti, dengan secercah alasan rasa ingin tahu yang begitu ingin. Jujur saja, pengakuannya hanya membuat luka dihatiku semakin bernanah. Kali ini, jatuh lagi air mataku. Bukan untuk Julius, tapi untuk kebodohanku sendiri.

“Pergilah Julius. Bawa juga seluruh kebodohan dan nafsumu yang telah kamu sebutkan tadi. Jangan pernah datang padaku lagi, walau hanya dalam khayal. Hanya itu pintaku.”

Aku begitu kacau. Sekacau-kacaunya sebuah kekacauan. Namun, kehidupan harus terus berjalan meskipun orang yang paling aku percaya adalah orang yang setiap hari mengkhianatiku. Aku pun berlalu meninggalkan Julius yang bersujud rapuh di kakiku.


#putritahtafadilah #putritahta #cerpen


Komentar

Postingan populer dari blog ini