Sebuah Cerpen Karya Putri Tahta Fadilah

Bahagia itu nggak Sederhana

 

Hari-hariku dilanda kebingungan. Sejak ia berkata “Bahagia itu nggak sederhana Dena.” Sebuah kalimat yang mampu mengubah pandanganku tentang hidup.

Dena, panggil saja aku seperti itu, karena lebih terdengar akrab dan hangat. Suara Okky masih jelas dalam terekam dalam ingatan, meskipun satu bulan sudah berlalu. Ada yang berbeda semenjak dia yang selalu mampu menenangkan apapun -termasuk aku-, pergi.

Untuk pertama kali, perjalanan makna ini dimulai. Pagi-pagi sekali aku menyusuri ruas jalan yang terasa akan sangat panjang. Karena memperhatikan secara seksama atas apa yang orang-orang lakukan sama sekali bukan diriku. Untung saja sinar mentari yang hangat serta hembusan angin pagi begitu menyegarkan. Memancing pemanasan-pemanasan kecil untuk semangat yang ada dalam diri. “I can do” pekik suara hati yang hanya bisa di dengar lagi oleh hati.

Aku memperhatikan seseorang yang ku temui pertama kali. Sepagi ini, perempuan paruh baya yang aku perhatikan sudah tampak kelelahan. Lalu coba ku tulis dalam buku tafsir :

Dibalik kebahagiaan, ada keringat yang bercucuran. Disela pori-pori, kulit dahi, telapak tangan dan seluruh badan. Tukang masak, debt collector, atlet renang, siapapun yang bergerak pasti mengeluarkan keringat. Singkatnya, yang tidak berkeringat tidak punya jimat.

Hari berikutnya aku melanjutkan perjalanan. Kemudian memperhatikan orang kedua yang ku temui. Aku mencoba menulis kembali dalam buku tafsir :

Dibalik kebahagiaan, ada bekas goresan luka pada jari-jari akibat terlalu lama memegang amplas atau melipat beribu-ribu lembar kertas. Ada juga goresan luka yang lebih serius lagi : di hati. Mungkin satu hari, satu bulan, atau bisa jadi butuh waktu bertahun-tahun untuk menyamarkannya. Tidak ada yang tahu pasti kapan sembuhnya, sebelum luka-luka itu benar-benar hilang.

Pagi ketiga, perjalananku sudah lebih jauh. Bukan hanya bicara tentang jarak, tapi juga sudut pandang. Seperti yang dilakukan dua pagi kebelakang, aku kembali memperhatikan orang. Lalu coba ku tulis lagi dalam buku tafsir :

Dibalik kebahagiaan, ada darah yang mengucur di sikut, lutut atau bagian tubuh lainnya. Walau hanya setetes, darah selalu lebih diperhatikan dari air satu kolam. Kehadirannya tak pernah luput dari rasa cemas seorang manusia. Sekecil apapun kecemasan itu, barang hanya satu inci.

Perjalanan kali ini terasa lebih panjang. Aku sudah sangat mengantuk, tapi seolah ada sihir yang memaksaku tetap terjaga. Sesayup-sayup mata hanya dia yang jelas terlihat. Seorang laki-laki berusia tiga puluhan. Selangkah demi selangkah telah aku lalui. Berusaha mendekati sumber magnet yang tiada ampun menyedot kakiku. Aku memperhatikan dia dengan betul. Aku tulis lagi dalam buku tafsir:

Dibalik kebahagiaan, ada sepasang bola mata hitam dan merah. Biasanya gelas berisi dedak kopi dan asbak yang dipenuhi puntung rokok adalah sahabat baiknya. Dan angin malam menjadi penghangat suasana, gemerlap bintang menjadi teman bercanda. Ada isi kepala yang tumpah-tumpah karena tidak kuat menampung bermacam-macam nutrisi. Atau mungkin, terlalu banyak menampung hal yang tidak mesti. Bisa juga, menampung semua yang dianggap penting sehingga tidak tahu mana butuh mana ingin. Yang lebih parah lagi, tidak pernah melibatkan nurani.

Perjalanan yang entah keberapa kali, aku temui kembali seseorang. Lalu aku tulis dalam buku tafsir yang hampir penuh itu :

Dibalik kebahagiaan, ada tetesan bening yang keluar dari mata dan jiwa. Ekspresi yang identik dengan kegagalan, meskipun tak jarang tetesan bening ini menandakan keberhasilan dan rasa bangga. Sesekali meronta. Sesekali membuat lega.

Pada akhirnya, aku menyimpulkan atas apa yang kudapat dari perjalanan makna yang telah aku lakukan selama berbulan-bulan.

Jadi, adakah bahagia yang sederhana? Kebahagiaan tidak bisa di raih hanya dengan mata terpejam atau sekedar tidur-tiduran. Kebahagiaan juga tidak bisa di raih dengan leha-leha. Kebahagiaan harus dibayar dengan kerasnya usaha.

Bahagia bisa jadi hasil maupun proses dalam bagian kehidupan. Ia datang dari dalam diri sendiri. Entah itu prosesnya menyenangkan atau menyedihkan. Setelah merasakan yang pahit, barulah yang manis datang. Seperti itulah bahagia, ga sederhana seperti yang dikatakan Okky.

Bahagia timbul dari motivasi diri. Tidak hanya datang dari tawa cekikikan, tapi perjuangan, cucuran keringat, membludaknya isi kepala, tetesan darah, percumbuan dengan kepedihan dan air mata. Sehingga, kebahagiaan bisa bertahan lebih lama, meskipun hanya tinggal kenangan.

Kebahagiaan yang sejati, mampu memancarkan aura yang dapat membuat orang lain merasa senang, bahkan ikut menciptakan kebahagiaan.

Iya, termasuk kenanganku bersama Okky yang sudah dulu pergi dari dunia. Terimakasih karena telah mengajarkanku makna dari kebahagiaan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini