Hari-hariku
dilanda kebingungan. Sejak ia berkata “Bahagia itu nggak sederhana Dena.”
Sebuah kalimat yang mampu mengubah pandanganku tentang hidup.
Dena,
panggil saja aku seperti itu, karena lebih terdengar akrab dan hangat. Suara
Okky masih jelas dalam terekam dalam ingatan, meskipun satu bulan sudah berlalu. Ada yang berbeda
semenjak dia yang selalu mampu menenangkan apapun -termasuk aku-, pergi.
Untuk
pertama kali, perjalanan makna ini dimulai. Pagi-pagi sekali aku menyusuri ruas
jalan yang terasa akan sangat panjang. Karena memperhatikan secara seksama atas
apa yang orang-orang lakukan sama sekali bukan diriku. Untung saja sinar mentari
yang hangat serta hembusan angin pagi begitu menyegarkan. Memancing pemanasan-pemanasan
kecil untuk semangat yang ada dalam diri. “I can do” pekik suara hati
yang hanya bisa di dengar lagi oleh hati.
Aku
memperhatikan seseorang yang ku temui pertama kali. Sepagi ini, perempuan paruh
baya yang aku perhatikan sudah tampak kelelahan. Lalu coba ku tulis dalam buku
tafsir :
Dibalik
kebahagiaan, ada keringat yang bercucuran. Disela pori-pori, kulit dahi,
telapak tangan dan seluruh badan. Tukang masak, debt collector, atlet renang,
siapapun yang bergerak pasti mengeluarkan keringat. Singkatnya, yang tidak berkeringat
tidak punya jimat.
Hari
berikutnya aku melanjutkan perjalanan. Kemudian memperhatikan orang kedua yang
ku temui. Aku mencoba menulis kembali dalam buku tafsir :
Dibalik
kebahagiaan, ada bekas goresan luka pada jari-jari akibat terlalu lama memegang
amplas atau melipat beribu-ribu lembar kertas. Ada juga goresan luka yang lebih
serius lagi : di hati. Mungkin satu hari, satu bulan, atau bisa jadi butuh
waktu bertahun-tahun untuk menyamarkannya. Tidak ada yang tahu pasti kapan
sembuhnya, sebelum luka-luka itu benar-benar hilang.
Pagi
ketiga, perjalananku sudah lebih jauh. Bukan hanya bicara tentang jarak, tapi
juga sudut pandang. Seperti yang dilakukan dua pagi kebelakang, aku kembali
memperhatikan orang. Lalu coba ku tulis lagi dalam buku tafsir :
Dibalik
kebahagiaan, ada darah yang mengucur di sikut, lutut atau bagian tubuh lainnya.
Walau hanya setetes, darah selalu lebih diperhatikan dari air satu kolam. Kehadirannya
tak pernah luput dari rasa cemas seorang manusia. Sekecil apapun kecemasan itu,
barang hanya satu inci.
Perjalanan
kali ini terasa lebih panjang. Aku sudah sangat mengantuk, tapi seolah ada
sihir yang memaksaku tetap terjaga. Sesayup-sayup mata hanya dia yang jelas terlihat. Seorang
laki-laki berusia tiga puluhan. Selangkah demi selangkah telah aku lalui. Berusaha
mendekati sumber magnet yang tiada ampun menyedot kakiku. Aku memperhatikan dia
dengan betul. Aku tulis lagi dalam buku tafsir:
Dibalik
kebahagiaan, ada sepasang bola mata hitam dan merah. Biasanya gelas berisi dedak
kopi dan asbak yang dipenuhi puntung rokok adalah sahabat baiknya. Dan angin
malam menjadi penghangat suasana, gemerlap bintang menjadi teman bercanda. Ada
isi kepala yang tumpah-tumpah karena tidak kuat menampung bermacam-macam
nutrisi. Atau mungkin, terlalu banyak menampung hal yang tidak mesti. Bisa
juga, menampung semua yang dianggap penting sehingga tidak tahu mana butuh mana
ingin. Yang lebih parah lagi, tidak pernah melibatkan nurani.
Perjalanan
yang entah keberapa kali, aku temui kembali seseorang. Lalu aku tulis dalam
buku tafsir yang hampir penuh itu :
Dibalik
kebahagiaan, ada tetesan bening yang keluar dari mata dan jiwa. Ekspresi yang
identik dengan kegagalan, meskipun tak jarang tetesan bening ini menandakan
keberhasilan dan rasa bangga. Sesekali meronta. Sesekali membuat lega.
Pada
akhirnya, aku menyimpulkan atas apa yang kudapat dari perjalanan makna yang
telah aku lakukan selama berbulan-bulan.
Jadi,
adakah bahagia yang sederhana? Kebahagiaan tidak bisa di raih hanya dengan mata
terpejam atau sekedar tidur-tiduran. Kebahagiaan juga tidak bisa di raih dengan
leha-leha. Kebahagiaan harus dibayar dengan kerasnya usaha.
Bahagia
bisa jadi hasil maupun proses dalam bagian kehidupan. Ia datang dari dalam diri
sendiri. Entah itu prosesnya menyenangkan atau menyedihkan. Setelah merasakan
yang pahit, barulah yang manis datang. Seperti itulah bahagia, ga sederhana
seperti yang dikatakan Okky.
Bahagia
timbul dari motivasi diri. Tidak hanya datang dari tawa cekikikan, tapi
perjuangan, cucuran keringat, membludaknya isi kepala, tetesan darah,
percumbuan dengan kepedihan dan air mata. Sehingga,
kebahagiaan bisa bertahan lebih lama, meskipun hanya tinggal kenangan.
Kebahagiaan yang
sejati, mampu memancarkan aura yang dapat membuat orang lain merasa senang,
bahkan ikut menciptakan kebahagiaan.
Iya, termasuk
kenanganku bersama Okky yang sudah dulu pergi dari dunia. Terimakasih karena
telah mengajarkanku makna dari kebahagiaan.
Komentar
Posting Komentar