MUSUH
Zain selalu merasa hidup
di zaman perang. Tapi bukan perang yang saling mengacungkan pedang. Zain hidup
di zaman perang, dimana yang kalah jadi pecundang dan pemenang jadi
pembangkang. Sebetulnya tak ada satu pun nyawa yang akan melayang dalam perang ini. Dampaknya tidak lain adalah jiwa-jiwa yang tidak baik-baik saja. Kehidupan yang tidak hidup.
Zain selalu menganggap
setiap orang yang memiliki nilai lebih adalah musuh. Iya, karena dia merasa terancam
dan takut dikalahkan. Popularitas, kecantikan, kecerdasan, harta bahkan
jabatan. Semua yang melebihi Zain akan ia anggap musuh yang harus dilenyapkan.
Dengan cara apapun.
Pujian dan sanjungan
menjadi candu dalam keseharian Zain. Sebetulnya, tiap hari ia berperang;
melawan dirinya sendiri. Melawan sesuatu yang betul-betul tidak bisa dikalahkan
sampai saat ini. Padahal, kata siapa musuh manusia itu adalah iblis-iblis
pembisik? Iblis yang mendesak manusia untuk masuk ke gerbang neraka, lalu memporakporandakan
seluruh keimanan dan kebaikan yang pernah dilakukan. Tidak ada iblis pembisik
yang seperti itu. Kata siapa musuh manusia itu adalah manusia lain yang
menyaingi. Musuh adalah semua yang berawal dan berasal dari diri manusia itu
sendiri.
Pagi-pagi sekali Zain
sudah bergegas menuju tempat rapat bersama atasan, dengan menenteng map dan
berkas tebal di kedua tangannya. Zain berpikir, semua jiwa pasti terkesima
dengan apa yang akan dipresentasikannya. “Aku sempurna, aku cantik, cerdas
dan punya jabatan. Tak ada satupun yang bisa mengalahkan dan merendahkanku”
seperti itulah pikiran dan hati Zain, bahkan dalam menghadapi segala hal. Zain
menganggap manusia lain, bahkan kondisi dan garis takdir adalah musuh saat ia
tak bisa memuaskan ambisinya untuk selalu dihormati.
Setibanya di ruangan,
tampak beberapa orang sudah duduk rapi. Hanya menyisakan tiga bangku kosong.
Dengan penuh rasa percaya diri, Zain duduk di kursi paling depan yang sudah
diduduki oleh Tommy. “Saya akan duduk disini.” Tegas Zain dengan tatapan
penuh hinaan. Menganggap bahwa yang pantas duduk di bangku paling depan hanya
dirinya seorang.
Tanpa ingin berdebat
dengan perempuan yang selalu ingin dihargai itu, Tommy bergeser ke bangku belakang
yang masih kosong. Kesal sebetulnya, tapi Tommy hanya bisa memendam dalam hati.
Pandangan dan sikap merendahkan itu sudah menjadi tabiat yang sudah diketahui
oleh orang satu kantor. Iya, jadinya Tommy biasa saja mendapat perlakuan
seperti itu. Bukan karena menghargai atau merasa takut. Hanya saja, Tommy
menganggap bahwa Zain adalah orang yang harus dimaklumi.
Lima belas menit
kemudian, datang Boss Besar. Tanpa di beri aba-aba, semua orang yang hadir di
ruangan kompak berdiri, kemudian membungkuk dan memberikan senyuman manis tanda
hormat. Sebuah kehormatan yang betul-betul menghormati. Mungkin sebagian lagi
ada yang melakukan hal serupa karena menjilat.
Rapat pagi itu pun di
mulai. Satu per satu karyawan mempresentasikan konsep yang telah mereka buat. Sampai
saatnya tiba giliran Zain.
Konsep yang bagus,
dipamerkan Zain dihadapan semuanya. Dalam presentasinya, Zain sedikit menyindir
bahan presentasi teman sebelumnya dengan nada mengejek. Sungguh, hal ini sudah
sangat biasa Zain lakukan, sehingga ia tidak akan merasa bersalah, atau sekedar
merasa tidak enak. Karena dimatanya, semua orang itu bodoh dan tidak ada
apa-apanya. Orang lain tidak berprestasi dan tidak bersinar seperti dirinya.
Sebenarnya, jika
dilihat dari keseharian, hal apa yang membuat Zain merasa dirinya bersinar
diantara teman-teman lain. Ia hanya memiliki ambisi yang terkadang tidak
dibarengi dengan kerja keras untuk mewujudkan impiannya. Namun, kesungguhannya
dalam mengejar ambisi tidak diragukan oleh siapapun. Sekalinya punya ambisi,
dia akan melakukan segala cara. Bagian paling mengerikan dari cara yang sering Zain
lakukan adalah merengek dan memaksa orang-orang berpengaruh untuk mewujudkan
keinginannya.
Salah satu rengekan dan
paksaan yang berhasil Zain lakukan adalah ketika ia memaksa kepada para
petinggi perusahaan untuk menaikkan jabatannya. Jujur saja, orang-orang mungkin
sangat mudah luluh mendengar permohonan yang begitu ingin dari seorang gadis
cantik. Semenjak mendapatkan jabatan itu lah, Zain mulai lupa diri. Jabatan kecil
yang ia dapat tanpa kerja keras itu, membuat Zain merasa menjadi orang
ter-segalanya. Seseorang yang tidak bisa dikalahkan pesonanya oleh siapapun.
Sekali lagi perlu dicatat, tanpa kerja keras.
Rapat pagi itu
menghabiskan waktu dua jam. Beberapa menit, Bos Besar mempertimbangkan seluruh
konsep yang telah dipresentasikan. Hingga akhirnya Bos Besar memberikan
keputusan.
“Semua konsep yang
sudah kalian buat dan presentasikan sudah sangat baik dan memuaskan. Tapi hanya
ada satu konsep yang akan saya pilih.” Ucap Bos Besar.
Seketika ruangan menjadi hening dan sedikit menegangkan. Pasalnya setiap orang
berharap-harap cemas. Mengharapkan Bos Besar memilih konsep yang telah mereka
buat masing-masing.
“Konsep yang akan kita
pakai adalah konsep pemberdayaan yang diusung oleh Cindy.”
Anak seumur jagung yang
baru bekerja tiga bulan di perusahaan. Hal itu sontak membuat Zain merasa
dikalahkan. Ia merasa sedikit hancur dengan keputusan Bos Besar. “Bisa-bisanya
anak baru mengalahkanku” Gumamnya dalam hati.
Zain tidak menerima
begitu saja keputusan Bos Besar. Ia langsung mengajukan protes secara sopan dan
halus. “Bos, apakah tidak sebaiknya dipikirkan lagi konsep yang akan kita bawakan.
Bagi saya, konsep yang lain juga tidak kalah bagusnya.” Perkataan manis
yang tidak sama sekali menunjukan ambisi.
Teman-teman sepekerjaan
yang mendengarkan protes Zain hanya bisa tersenyum miring. Sejenak, raut Bos
Besar berubah. “Apakah kamu tidak menerima keputusan saya?”. Tanya Bos
Besar sambil berlalu meninggalkan ruangan rapat.
Rupanya, upaya Zain
tidak berhenti sampai disana. Arogansi dan rasa tidak mau kalah dengan cepat
menyelimuti nurani Zain. Cepat-cepat ia menghubungi manajer, dan beberapa orang
penting untuk mendukungnya. Karena bagi Zain tidak ada satu pun konsep yang
layak dipakai dan diterima selain konsep yang ia buat.
Dua hari berlalu.
Gerilya yang dilakukan Zain berjalan dengan sempurna. Namun siapa sangka,
masukan-masukan para petinggi perusahaan malah membuat Bos Besar geram.
Dengan segera, Bos
Besar mengumpulkan seluruh karyawan untuk berkumpul. Biasanya, aula besar hanya
digunakan untuk acara-acara yang benar-benar besar. Beberapa orang
bertanya-tanya untuk apa mereka dikumpulkan. Sebagian lagi, mencoba
menebak-nebak apa yang akan terjadi. Tidak ada yang tahu pasti sampai Bos Besar
angkat bicara.
“Saya tidak menganggap
semua yang hadir disini adalah bawahan yang memiliki derajat dan martabat
rendah dari saya. Semua orang adalah partner dalam membangun perusahaan. Saya
sangat suka dengan jiwa gotong royong dan saling menghargai. Kita semua
bekerjasama, bukan saling bermusuhan. Saya tidak akan memberikan toleransi
kepada siapapun yang ingin bersinar sendirian. Ingat, tidak ada satupun
kemenangan yang bisa diraih seorang diri. Berhentilah merasa orang yang paling
berharga dan selalu ingin disanjung. Penghormatan hanya akan diberikan kepada
mereka yang bisa menghormati orang lain.”
Kekecewaan Bos Besar
sangat dirasakan oleh orang-orang satu kantor. Dari mulai para petinggi,
pimpinan divisi, sampai security. Mereka tahu betul bahwa Bos Besar sedang
marah besar, sebesar kekuasaannya di perusahaan.
“Oh ya, mulai hari ini,
siapapun yang merasa dirinya tinggi, saya persilakan untuk pergi. Carilah
tempat bekerja yang tidak membutuhkan orang lain. Atau tempat kerja yang se-isi
kantor hanya berisi orang-orang yang pekerjaannya memberikan sanjungan terhadap
individumu. Dan, jangan anggap semua orang adalah musuh, karena sesungguhnya
musuhmu adalah dirimu sendiri.”
Kata-kata Bos Besar begitu lugas. Beberapa orang merasa peka dan beerasumsi bahwa itu adalah dirinya. Sehingga menjadikan momen ini sebagai ajang introspeksi. Tapi tidak dengan Zain. Sedikitpun ia tidak merasa tersentuh dengan kata-kata Bos Besar. Padahal jelas-jelas omongan Bos Besar mengarah padanya. Zain tidak tahu saja, bahwa Bos Besar selalu memperhatikan karyawan yang tidak bertindak seperti karyawan. Termasuk Zain. Sungguh, gila hormat telah menutupi akal sehat Zain. Ia nyaman dengan hidup yang seperti itu; dimaklumi semua orang.
#PutriTahtaFadilah
Komentar
Posting Komentar