TABUNG (Cerita bersambung)
NADA SUNYI MALA
Part 1
Alfred
hanya peduli pada kolam lima meter persegi yang selalu dianggapnya sebagai
lautan. Sebagai seorang isteri, Nevi tak bisa melakukan apapun untuk
menyadarkan Alfred. Hanya kesia-siaan yang Nevi dapat jika bersikeras bicara
pada suaminya. Bungkam adalah pilihan terbaik. Bekerja dari pagi sampai malam
adalah solusi. Mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup keluarga kecilnya.
Alfred
punya mimpi yang besar, ia selalu berkeyakinan bahwa awan-awan akan datang
diatas kolamnya dan menyemburkan hujan. Kemudian, subur dan makmurlah
tanah-tanah dan kebun-kebun impian miliknya. Mimpi Alfred selalu teguh,
sehingga ia tidak pernah peduli dengan perkataan orang lain yang berulang-ulang
menyuruhnya untuk mencari penghasilan, termasuk isterinya sendiri.
Dan
untuk siapakah mimpi-mimpi itu jika sudah terwujud? Hanya Malahayati. Anak
semata wayang dari hasil pernikahan bersama Nevia.
Terdapat seluruh keindahan yang dimiliki semesta
dalam diri Mala – panggilan sayang orang tuanya. Satu senyuman saja, bisa
meluluh lantahkan seluruh bangunan (baca : keegoisan) pasangan suami isteri
yang begitu kokoh; Alfred yang sekeras baja, Nevi yang setajam samurai.
Suatu sore, Nevi datang dengan muka lelah. Wajahnya
kusut bercampur dengan asap knalpot yang melekat di kedua pipinya yang semakin
tirus. Beberapa helai rambut berminyak menutupi sebagian keningnya. Badan Nevi
selalu bau keringat bercampur debu dan sampah yang bertebaran disepanjang jalan
menuju rumah. Kakinya kotor. Tak ada beda dengan tapak kaki kuda. Penampilannya
persis tunawisma.
Melihat suaminya sedang bersantai sambil
mendengarkan music jazz, ditemani dua sahabatnya; Segelas kopi dan sebatang
rokok, membuat Nevi ingin menjambak kepala botak Alfred yang selalu mendadak
tumbuh rambut kala pertempuran sengit terjadi di dalam rumah. Umpatan dan
cacian sedang Nevi kumpulkan seirama dengan langkah kaki yang terseok-seok
menuju target kekesalannya. Satu langkah, sama dengan satu cacian penuh amarah.
Dug..Dug..Dug..
Saat emosi sudah memuncak, terasa sentuhan lembut
dan hangat menyergap kulit Nevi. Turut hadir seraut wajah yang selalu membuat
Nevi luluh. Sepasang mata sayu yang selalu teduh meredam amarah Nevi tanpa
gaduh. “Mama, Mala rindu… Mama sudah tiga hari tidak pulang.”
Seketika hancurlah seluruh dendam yang menguasai
Nevi. Kini yang tersisa dalam benaknya adalah melepas rindu dengan buah
hatinya. Gundukan emosi itu berubah menjadi butir bening yang mengalir deras
dari kelopaknya.
Nevi kaget setengah mati. Senang sekaligus haru. Mendengar
anak nya bisa bicara. Mala adalah anak yang memiliki kelainan dalam bicara.
Usianya kini sudah 12 tahun, tapi tak sepatah katapun bisa ia ucapkan.
Bersambung***
-Putri Tahta Fadilah-
#PutriTahtaFadilah
Komentar
Posting Komentar