Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal
Perdebatan ucapan selamat natal dari seorang muslim tidak pernah surut. Setiap individu atau kelompok, memiliki argumen masing-masing tentang boleh atau tidak mengucapkan selamat natal. Ada kelompok yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Ada juga kelompok yang menolak.
Indonesia merupakan negara yang heterogen. Suku, ras, bahasa, tradisi juga agama yang beragam. Salah satu pilar kebangsaan adalah "Bhinneka Tunggal Ika" yang memiliki arti "Berbeda-beda tapi satu tujuan." Andaikan "Bhinneka Tunggal Ika" menjadi citra diri bangsa, maka tidak akan ada secuil debu pun yang bisa memecah belah bangsa ini. Namun pada realitasnya, semboyan tinggallah semboyan. Nilai penghayatan dan pengamalan dari semboyan itu nol. Atau, mungkin saja sengaja dilupakan.
Sebenarnya, berbeda suku, bahasa, agama, itu dirasa terlalu jauh. Dalam kehidupan sehari-hari pun, keberagaman dan perbedaan sangat ditemukan. Saya beri contoh satu aktivitas yang bernama makan. Setiap orang mempuanyai keberagaman tersendiri dari satu aktivitas ini saja. Dari mulai selera, dan jenis makanan; suka sayur atau daging; suka kuah atau kering. Beranjak ke porsi makan; satu kali ambil nasi atau satu kali ambil lauk; tambah nasinya saja atau sambalnya saja; tambah lauknya saja atau tambah satu porsi lagi. Selanjutnya dari cara makan; lebih suka pakai tangan atau pakai sendok; lebih enak makan di piring atau di kertas nasi. dan masih banyak lagi perbedaan dalam satu aktivitas yang bernama makan.
Maka, yang namanya perbedaan dan keberagaman itu tidak pernah absen dalam kehidupan manusia. berbicara tentang perbedaan, Rasulullah saw bersabda, bahwa "Perbedaan adalah Rahmat". Lantas apa yang terjadi? Dewasa ini, perbedaan dijadikan senjata untuk menyerang dan melemahkan sesama manusia. Padahal, apa yang diucapkan Rasulullah saw sudah pasti benar, karena Beliau memiliki sifat shiddiq (benar) dan Allah yang langsung memeliharanya.
Perbedaan akan menjadi rahmat, bila manusia mampu me-manage perbedaan tersebut, sehingga menghasilkan kehidupan yang lebih baik dan seimbang. Pembahasan tentang perbedaan tidak akan pernah berakhir selama kehidupan ummat manusia masih berlangsung. Oleh karena itu, orang harus belajar menerima dan memanfaatkan perbedaan sehingga keharmonisan dan kedamaian selalu terjaga.
Selanjutnya, pada pembahasan ucapan selamat natal dari seorang muslim, terdapat pemahaman yang terputus, sehingga, orang-orang yang terlalu keras menentang hal ini tidak mampu menerima kehendak Tuhan yang menciptakan alam semesta dan segala isinya tidak seragam. Sesungguhnya, Islam tidak melarang seseorang dalam harmonisasi hubungan beragama dan berlaku baik terhadap non-muslim.
Sebagai landasan berpikir, saya mengutip pendapat dari Quraish Shihab dalam quraishshihab.com beliau mencantumkan sebuah ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa a.s dalam Q.S Maryam ayat 33 :
"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."
Berdasarkan ayat tersebut, mengucapkan selamat natal diperbolehkan asal tetap memelihara akidah yang diyakini seorang muslim bahwa Nabi Isa a.s adalah seorang Nabi, bukan Tuhan.
Dalam memandang Nabi Isa a.s, jelas berbeda antara muslim dan non muslim. Namun, perbedaan tersebut tidak mesti menjadi bahan pertikaian pada kalangan internal umat muslim. Justru, umat muslim harus pandai me-manage perbedaan tersebut, sehingga diharapkan mampu menjadi rahmat.
Wallahu a'lam bishowab.
-Tahta Putri-
Komentar
Posting Komentar