Bahagia itu (ga) sederhana




Dibalik kebahagiaan, ada keringat yang bercucuran.

Disela pori-pori, kulit dahi, telapak tangan dan seluruh badan.

Tukang masak, debt collector, atlet renang, siapapun yang bergerak pasti mengeluarkan keringat.

Yang tidak berkeringat tidak punya jimat.


 

Dibalik kebahagiaan, ada bekas goresan luka pada jari-jari akibat terlalu lama memegang amplas atau melipat beribu-ribu lembar kertas.

Ada juga goresan luka yang lebih serius lagi. Di hati;

Mungkin satu hari, satu bulan, atau bisa jadi butuh waktu bertahun-tahun untuk menyamarkannya.

Tidak ada yang tahu pasti kapan sembuhnya, sebelum luka-luka itu benar-benar hilang.


 

Dibalik kebahagiaan, ada darah yang mengucur di sikut, lutut atau bagian tubuh lainnya.

Walau hanya setetes, darah selalu lebih diperhatikan dari air satu kolam.

Kehadirannya tak pernah luput dari rasa cemas seorang manusia.

Sekecil apapun kecemasan itu.


 

Dibalik kebahagiaan, ada sepasang bola mata hitam dan merah.

Biasanya gelas berisi dedak kopi dan asbak yang dipenuhi puntung adalah sahabat baiknya.

Kadang, angin malam menjadi penghangat suasana.

Dan gemerlap bintang menjadi teman bercanda.


 

Dibalik kebahagiaan, ada isi kepala yang tumpah-tumpah karena tidak kuat menampung bermacam-macam nutrisi.

Atau mungkin, terlalu banyak menampung hal yang tidak mesti.

Bisa juga, menampung semua yang dianggap penting sehingga tidak tahu mana butuh mana ingin.

Yang lebih parah lagi, tidak pernah melibatkan nurani.


 

Dibalik kebahagiaan, ada tetesan bening yang keluar dari mata dan jiwa.

Ekspresi yang identik dengan kegagalan, meskipun tak jarang tetesan bening ini menandakan keberhasilan dan rasa bangga.

Sesekali meronta.

Sesekali membuat lega.


 

Jadi, adakah bahagia yang sederhana?

Kebahagiaan tidak bisa di raih hanya dengan mata terpejam atau sekedar tidur-tiduran.

Kebahagiaan juga tidak bisa di raih dengan leha-leha.

Kebahagiaan harus dibayar dengan kerasnya usaha.

 


Bahagia adalah hasil dari perjalanan panjang dalam bagian kehidupan.

Setelah merasakan yang pahit, barulah yang manis datang.

Seperti itulah bahagia, ga ada yang sederhana seperti kata pepatah.

Butuh perjuangan, cucuran keringat, membludaknya isi kepala, tetesan darah, percumbuan dengan kepedihan dan air mata.


-Putri Tahta Fadilah- 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini